
Kisah ini lahir untuk menyingkap makna yang kerap terlewat ketika “cinta” tak diberi ruang untuk tumbuh di tanah yang telah dipagari oleh nama besar keluarga, garis keturunan, dan kasta sosial. Nana is Love, Love is Nana. Kalimat itu bukan sekadar mantra penghibur, melainkan pengakuan terdalam dari cinta yang tak bisa hidup, namun juga tak sanggup mati. Novel ini adalah napas panjang dari ibadah rindu yang ditempa oleh luka, jeda, dan keberanian untuk menyebut satu nama terakhir dari sembilan puluh sembilan nama cinta yang telah abadi sebelumnya. Ia bercerita tentang keluguan seorang pelesir mimpi yang tengah menghadapai gelap gulita kota oleh dunia yang gemar menjual harapan tapi miskin keberpihakan. Saya menulisnya sebagai prasasti hidup, sebagai penanda bahwa pernah ada ruang dan waktu di kala tiga dimenasi yang berharap sampai pada apa yang benar-benar ingin diperjuangkan. Prosa arum asmaraloka yang Anda genggam ini adalah upaya saya untuk menenangkan resah dari bayang Nurwisa yang menuntunku fana dalam nama Nana. Saya berharap, ketika pembaca membuka lembar demi lembar, perspektif mereka ikut bergeser. Bahwa cinta tak selalu berwujud romansa yang manis, melainkan bisa menjadi cermin sosial, ruang perlawanan, sekaligus jalan pulang bagi mereka yang tersesat dalam hiruk-pikuk ambisi dan tuntutan zaman. Semoga Anda menemukan sesuatu yang baru di antara kalimat-kalimat ini. Entah itu keberanian, kelegaan, atau sekadar pengakuan bahwa rumah sejati kadang adalah seseorang, dan seseorang itu mungkin saja bernama Nana.
Page Count:
159
Publication Date:
2025-08-20
ISBN-10:
6238936878
ISBN-13:
9786238936878
No comments yet. Be the first to share your thoughts!